When Leaders Forget the Teachings of Islam
Bahasa Indonesia di bawah:
Please read with an open mind, think and then respond. This is my prespective on this issue, follow what you preach… If you can’t follow the oath you have taken then you should not be in office.
This is by far the most contrversial post I have written. I was a bit reluctant to put it all out there, but it is something I think that needs to be said. I am not religious and not sure if I will ever be… However, my point here is not religion. It is the lack of religion in a country where mosques and prayers are integrated into life, culture and daily life, five times a day in fact. So where have the leaders strayed, where have they been led by greed, corruption, hate, envy and personal gratification while others suffer under the corruption of the government. And where is their faith in the Quran?
Faith and Power Should Walk Together
Indonesia is home to the largest Muslim population in the world. Islam here is not just a belief; it is woven into daily routines, family traditions, community gatherings, and national identity. Leaders in such a country are expected not only to govern but also to embody the moral compass of their people. In Islam, leadership is not a privilege but a trust, a sacred responsibility that comes with accountability to both the people and God.
What the Quran Teaches
The Quran places justice at the heart of leadership. It speaks of fairness, humility, compassion, and honesty. It teaches that wealth and power are not personal trophies but entrusted blessings meant to be shared and used responsibly. Leaders are instructed to serve the ummah, to lift up the poor, to care for the vulnerable, and to resist temptation. A leader who forgets this has not only failed politically but spiritually.
The Contrast We See Today
When parliamentarians approve lavish allowances for themselves while ordinary Indonesians struggle to put food on the table, that is not justice. When a driver is killed during protests and unrest spreads across the nation, it is clear that compassion has been replaced by arrogance. When corruption and greed become the hallmark of governance, those in power are not just betraying the people, they are betraying the values of Islam itself.
This is not about politics versus religion. It is about hypocrisy. Leaders who bow in prayer five times a day yet continue to lie, steal, and exploit cannot hide behind rituals. The Quran is clear. Faith without justice, without humility, without care for others is empty.
Islam as a Mirror, Not a Weapon
To be clear, this is not an attack on Islam. Islam is not the problem. The problem is the distance between the teachings of Islam and the actions of those who claim to live by it. Mosques may echo with prayers, but if the halls of government echo with corruption, then the leaders have already lost their way.
Islam can be a mirror. It reflects what true service, honesty, and accountability look like. A reminder, not for the people who already suffer, but for those who hold the power to change lives.
The Call Back to Faith
Indonesia does not need leaders who appear religious; it needs leaders who live religion. Leaders who understand that the Quran is not a book for display but a guide for action. Leaders who know that every dishonest allowance, every corrupt deal, every abuse of power is not only a crime against the people but a sin against God.
The current unrest in Indonesia is not just about money or politics. It is about a spiritual void at the top. A void created by leaders who have allowed greed and envy to replace humility and service. A void that no allowance, no policy, no military force can fill.
Reflection
I may not be religious, but even I can see the distance between what the Quran teaches and what the government practices. And if someone like me can see it, how much clearer must it be to the millions of Muslims in this country who pray five times a day, who live their faith honestly, and who deserve leaders that reflect the very values they hold sacred.
Indonesia has a choice. To continue down a path where faith is spoken but not lived. Or to demand leaders who embody justice, humility, compassion, and honesty. Until then, the call to prayer will continue to ring, but the silence of true faith in the halls of power will remain deafening.
Here’s the full translation of your text into Bahasa Indonesia, keeping the respectful and thoughtful tone intact:
Ketika Pemimpin Melupakan Ajaran Islam
Tolong baca dengan pikiran terbuka, renungkan, lalu tanggapi. Ini adalah sudut pandang saya tentang masalah ini: jalankan apa yang kalian ajarkan… Jika tidak bisa menepati sumpah yang telah diucapkan, maka seharusnya tidak berada di kursi jabatan.
Ini sejauh ini adalah tulisan paling kontroversial yang pernah saya buat. Saya sempat ragu untuk benar-benar menuliskannya… Saya bukan orang yang religius dan tidak yakin apakah suatu hari akan menjadi religius. Namun, poin saya di sini bukan tentang agama. Ini tentang kurangnya agama di sebuah negara di mana masjid dan doa terintegrasi dalam kehidupan, budaya, dan keseharian, bahkan lima kali sehari. Jadi di mana para pemimpin telah menyimpang, ke mana mereka telah terseret oleh keserakahan, korupsi, kebencian, iri hati, dan kepuasan pribadi sementara rakyat lain menderita di bawah korupsi pemerintahan. Dan di mana iman mereka terhadap Al-Quran?
Iman dan Kekuasaan Seharusnya Berjalan Bersama
Indonesia adalah rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia. Islam di sini bukan hanya sebuah keyakinan, tetapi terjalin dalam rutinitas sehari-hari, tradisi keluarga, pertemuan masyarakat, dan identitas nasional. Pemimpin di negara seperti ini diharapkan tidak hanya memerintah, tetapi juga menjadi kompas moral bagi rakyatnya. Dalam Islam, kepemimpinan bukanlah hak istimewa, melainkan amanah, sebuah tanggung jawab suci yang disertai pertanggungjawaban kepada rakyat dan kepada Allah.
Apa yang Diajarkan Al-Quran
Al-Quran menempatkan keadilan sebagai inti dari kepemimpinan. Ia berbicara tentang keadilan, kerendahan hati, kasih sayang, dan kejujuran. Ia mengajarkan bahwa kekayaan dan kekuasaan bukanlah piala pribadi, melainkan amanah yang harus dibagikan dan digunakan secara bertanggung jawab. Para pemimpin diperintahkan untuk melayani ummah, mengangkat yang miskin, menjaga yang lemah, dan menahan diri dari godaan. Pemimpin yang melupakan hal ini bukan hanya gagal secara politik, tetapi juga secara spiritual.
Kontras yang Kita Lihat Hari Ini
Ketika anggota parlemen menyetujui tunjangan besar untuk diri mereka sendiri sementara rakyat Indonesia kesulitan menyediakan makanan di meja, itu bukanlah keadilan. Ketika seorang pengemudi tewas saat demonstrasi dan kerusuhan menyebar ke seluruh negeri, jelas bahwa kasih sayang telah digantikan oleh kesombongan. Ketika korupsi dan keserakahan menjadi ciri pemerintahan, mereka yang berkuasa bukan hanya mengkhianati rakyat, tetapi juga mengkhianati nilai-nilai Islam itu sendiri.
Ini bukan tentang politik versus agama. Ini tentang kemunafikan. Pemimpin yang sujud dalam doa lima kali sehari namun tetap berbohong, mencuri, dan mengeksploitasi tidak bisa bersembunyi di balik ritual. Al-Quran jelas. Iman tanpa keadilan, tanpa kerendahan hati, tanpa kepedulian kepada sesama adalah kosong.
Islam Sebagai Cermin, Bukan Senjata
Perlu ditegaskan, ini bukan serangan terhadap Islam. Islam bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah jarak antara ajaran Islam dan tindakan mereka yang mengaku menjalankannya. Masjid mungkin bergema dengan doa, tetapi jika gedung pemerintahan bergema dengan korupsi, maka para pemimpin telah kehilangan jalannya.
Islam bisa menjadi cermin. Ia memantulkan apa arti pelayanan sejati, kejujuran, dan pertanggungjawaban. Sebuah pengingat, bukan untuk rakyat yang sudah menderita, tetapi untuk mereka yang memegang kekuasaan untuk mengubah hidup.
Seruan Kembali pada Iman
Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang tampak religius, tetapi membutuhkan pemimpin yang hidup religius. Pemimpin yang memahami bahwa Al-Quran bukanlah kitab untuk dipajang, tetapi pedoman untuk bertindak. Pemimpin yang tahu bahwa setiap tunjangan tidak jujur, setiap kesepakatan korup, setiap penyalahgunaan kekuasaan bukan hanya kejahatan terhadap rakyat, tetapi juga dosa terhadap Allah.
Kerusuhan yang terjadi di Indonesia saat ini bukan hanya tentang uang atau politik. Ini tentang kekosongan spiritual di puncak kekuasaan. Kekosongan yang diciptakan oleh pemimpin yang membiarkan keserakahan dan iri hati menggantikan kerendahan hati dan pelayanan. Kekosongan yang tidak bisa diisi oleh tunjangan, kebijakan, atau kekuatan militer.
Renungan
Saya mungkin bukan orang religius, tetapi bahkan saya bisa melihat jarak antara apa yang diajarkan Al-Quran dan apa yang dipraktikkan pemerintah. Dan jika orang seperti saya bisa melihatnya, betapa lebih jelas hal itu bagi jutaan Muslim di negeri ini yang berdoa lima kali sehari, yang hidup dalam iman dengan jujur, dan yang pantas memiliki pemimpin yang mencerminkan nilai-nilai yang mereka anggap suci.
Indonesia memiliki pilihan. Melanjutkan jalan di mana iman hanya diucapkan tetapi tidak dijalankan. Atau menuntut pemimpin yang menjunjung keadilan, kerendahan hati, kasih sayang, dan kejujuran. Sampai saat itu tiba, panggilan azan akan terus berkumandang, tetapi heningnya iman sejati di gedung kekuasaan akan tetap terdengar memekakkan telinga.
